Senin, 10 Oktober 2011

Ternyata komunikasi itu penting. . .

Pengantar
Selama ini banyak dokter gigi yang kurang memahami arti pentingnya komunikasi antara dokter dan pasien, sehingga terjadilah istilah "MISKOMUNIKASI". Hal ini sebenarnya dapat dihindarkan jika setiap dokter menerapkan esensi dari komunikasi dokter-pasien. Informasi yang berkaitan dengan pasien sebaiknya disampaikan dengan dasar dan metode penyampaian yang tepat, sehingga dapat membangun hubungan yang baik antara dokter dan pasien.

Hubungan Dokter Gigi-Pasien
Hubungan dokter gigi dengan pasien dapat dikatakan secara kontraktual. Contoh hubungan secara kontraktual antara lain :
  1. Dokter gigi membuka praktek dan memasang papan nama. Ini merupakan bentuk penawaran umum kepada masyarakat, tetapi bukan dalam bentuk iklan, karena dokter gigi dilarang beriklan.
  2. Dokter gigi melakukan anamnesis, pemeriksaan, mendiagnosis, dan mengobati pasien
  3. Dokter gigi melakukan planning/perencanaan
  4. Dokter gigi mengisi dan melengkapi rekam medis pasien
Dokter gigi tidak seharusnya memberikan "jaminan pasti sembuh" atau "tindakan medis selalu berhasil" kepada pasien, karena tindakan medis yang diberikan pasti ada resikonya dan hasil yang tidak sesuai dengan keinginan pasien. Ada salah satu contoh kasus yang ada di masyarakat : seorang dokter gigi, sebut saja drg. A, menjanjikan gigi pasien, sebut saja B, menjadi rapi dan cantik dengan perawatan orthodontik (kawat gigi). Namun, setelah perawatan selesai, pasien B melayangkan protes kepada dokter A, karena setelah dirawat ortho, wajah B malah menjadi aneh. Dokter gigi A pun akhirnya digugat dan diminta untuk mengembalikan wajah B menjadi seperti semula. Seandainya dari awal, dokter gigi A menjelaskan resiko perawatan ortho dan tidak menjanjikan hasil, mungkin hal ini tidak akan terjadi. Kasus ini dapat menjadi pelajaran, bahwa komunikasi yang baik dapat membangun kepercayaan pasien dengan baik. Akan lebih baik jika dokter hanya menjanjikan upaya yang terbaik atau yang disebut inspaningsverbintenis atau perjanjian upaya.

Komunikasi = 50% Keberhasilan Perawatan
Hampir 70% pasien dokter gigi pasti mengalami hal ini. Ketika datang ke dokter gigi, nunggu antrian berjam-jam, ketika dipanggil kemudian masuk ke dalam ruangan yang menyuguhkan berbagai macam peralatan yang menakutkan, lalu tanpa ba bi bu langsung disuruh duduk di kursi gigi, dokter hanya bertanya "sakit apa?". Pasien "Mau cabut, dok", "Gigi mana?". Kemudian gigi yang sakit ditunjuk. Dokternya manggut-manggut lalu ambil tang dan "klek", tercabutlah gigi yang dimaksud. Pasien disuruh gigit kapas, diberi resep, bayar (apalagi mahal), dan pulang. Ckckckck, semoga tidak ada lagi dokter gigi seperti ini di Indonesia. Amin Ya Robbal'Alamin. Pengalaman seperti diatas dapat membuat pasien "kapok" datang ke dokter gigi. Pasien akan merasa diperlakukan sebagai objek. Alih-alih kembali ke dokter tersebut, pasien dapat memutuskan untuk ganti dokter atau ke pengobatan alternatif. Lebih parah lagi, jika pasien akhirnya memutuskan untuk tidak melakukan perawatan gigi sama sekali. Dengan komunikasi yang terjalin dengan baik antara dokter gigi dan pasien, pasien dapat merasa lebih dihargai, didengarkan, dan dipahami oleh dokter, sehingga dokter dan pasien dapat bekerja sama mencari perawatan yang terbaik bagi pasien. Semoga bermanfaat!

Quote :

"Komunikasi efektif mampu menghindarkan kesalahpahaman yang bisa menimbulkan dugaan malpraktek".